Jumat, 03 Januari 2014

Teknologi Nanopartikel dan Manfaatnya Untuk Obat Kanker


Walau saat ini dengan tes urin dapat mendiagnosa penyakit tetapi, metode tes ini telah gagal hingga saat ini mendeteksi gumpalan darah. Efek buruk dari darah menggumpal yang terburuk adalah kematian tidak sulit mendeteksinya dan juga murah dan mungkin akan bisa menyelematkan nyawa penderita.
Saat ini, peneliti di MIT telah mengembangkan tes urin sederhana yang dapat mendeteksi gumpalan darah. Pengujian berpusat di sekitar oksida besi yang dilapisi dengan peptida (protein) mampu mendeteksi enzim trombin yang merupakan indikator gumpalan darah.
Pada penelitian yang diterbitkan dijurnal ACS Nano (Nanoparticles That Sense Thrombin Activity As Synthetic Urinary Biomarkers of Thrombosis), MIT menunjukkan bahwa nanopartikel bisa disuntuikkan ke tikus dan berjalan keselururh peredaran darah mereka. Ketika nanopartikel bertemu dengan enzim trombin, peptida pada permukaannya pecah dan di ekstraksikan ke dalam di urin tikus.
Sample urin tersebut kemudian diobati dengan antibodi spesifik dan sejalan dengan peptida yang digunakan pada permuakan nanopartikel. Peneliti menemukan bahwa, jumlah kepingan peptida berbanding lurus dengan jumlah gumpalan darah yang ada di paru-paru tikus.
Bila ini berhasil maka fungsi dari nanopartikel sangat terasa sekali. Pertama, bisa digunakan pada pasien di UGD. Agar diagnosa cepat dilakukan dan pasien mendapat penanganan yang tepat, nanopartikel bisa di andalkan dan satu lagi untuk pemantauan terus menurus pada orang yang kemungkinan mengalami penggumpalan darah yang beresiko. Yang mungkin menjadi masalah saat ini adalah kadar nanopartikel berada di dalam tubuh manusia dan bagaimana tubuh memperlakukan nanopartiekl buka sebagai pengganggu atau racun.
Nanopartikel bisa mebunuh sel kangker
Kemampuan terapi nanopartikel logam terus membaik terutama untuk obat kanker. Seiring perkembangan mereka pada terapi, mereka juga menunjukkan kemampuan dignosa juga seperti penggunaan terakhir mereka yang memungkinkan pengujian obat di iPod.
Kita patut berterimakasih pada peneliti dari Universitas  Sout Wales Di Australia, nanopartikel logam telah mereka gunakan untuk mengobati kangker dan mengamati pengobatannya. Perkembangan terakhir dari penelitian yang mereka lakukan adalah nanopartikel bertindak sebagai sebagai alat untuk terapi dan juga dignosa.
Pada jurnal yang diterbitkan oleh peneliti Australia ini di ACS Nano berjudul “Using Fluorescence Lifetime Imaging Microscopy to Monitor Theranostic Nanoparticle Uptake and Intracellular Doxorubicin Release” menggunakan teknik fluresensi untuk melihat pelepasan obat kanker dalam sel-sel kangker.
Biasanya, pelepasan obat ditentukan dengan menggunakan model percobaan di dalam laboratorium. Namun untuk sel, sepertinya teknik itu kurang berguna. Bila berkaitan dengan sel, pelepasan obat seharusnya dilihat langsung pada lingkungan biologis nyata untuk melihat gerakan pelepasan kinetik obat.
Para peneliti dari Australia ini mampu memberikan obat dan memperhatikannya masuk kedalam sel kangker dengan menggunakan nanopartikel oksida besi yang dilapisi dengan polimer. Karang polimer tersebut dibangun agar bisa ditempeli obat duxorubicin (Dox) dan melepaskan Dox di dalam asam sel kangker. Oksida besi nanopartikel di dalam sel membuat kemudian membuat fluresensi menonjol. Teknik ini cukup berhasil mengoptimalkan nanopartikel dan Dox. Namun masih terus dikembangkan karena tingkat kangker pada tubuh penderita berbeda-beda. Belum lagi masalah nanopartikel yang merupakan logam, bagaimana dampaknya bagi tubuh penderita.
Para peneliti dari Australia ini berharap agar nanopartikel oksida besi bisa dikembangkan dan memungkinkan untuk beradaptasi dengan terapi obat pasien. Penemuan ini cukup penting karena menunjukkan kalau kimia (besi oksida) bisa bekerja di dalam sel. Karena selama ini, bahan-bahan kimia apalagi logam di anggap racun dan berbahaya bagi tubuh kita karena tidak bisa dilebur. Ini juga yang menjadi tantangan bagi peneliti agar oksida besi nanpo partikel ini tetap aman di dalam tubuh manusia walau dalam jumlah yang banyak.
Ini masih awal. Di kedepannya, nanopartikel diharapkan bisa menymbuhkan penyakit-penyakit yang sulit untuk disembuhkan seperti AIDS. Penyakit yang berhubungan dengan sel memang cukup sulit karena obat-obatan sulit menembus hingga ke dalam inti sel. Pengobatan ini juga harus bisa dibuat murah agar bisa di nikmati semua masyarakat. Terkadang, penemuan obat malah dijadikan ajang komersialisasi. Walau obat bisa menyembuhkan, investor malah ingin obat sebatas mengurangi secara signifikan agar pasien terus mengkonsumsi obat tersebut. Mudahmudah ini tidak terjadi pada nanopartikel. Dan akhirnya, saat ini oksida besi nanopartikel akan bergerak ke in-vivo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar