Kamis, 13 Februari 2014

ARM Cortex-A17 Sengaja Dirancang untuk Smartphone Kelas Menengah

Banyak pecinta gadget yang lebih menyukai ponsel pintar Android kelas atas, seperti buatan Samsung, LG dan beberapa produsen lainnya. Namun sebenarnya, tak sedikit produsen masih tertarik memproduksi perangkat kelas menengah yang harganya terjangkau dan juga memiliki kualitas menarik.
 
Sebagai contoh, HTC yang dikenal sering kali meluncurkan ponsel bagi pengguna high end, kini tertarik untuk meluncurkan ponsel kelas menengah, seperti HTC One mini. Sementara itu, Motorola memperkenalkan Moto G.
 
Hal tersebut memacu produsen prosesor ARM untuk menghadirkan produk terbaru yang sesuai untuk ponsel kelas menengah. Belum lama ini, mereka memperkenalkan Cortex - A17. Berbeda dengan prosesor sebelumnya, seperti Cortex - A15, A17 benar-benar ditujukan untuk perangkat kelas menengah.
 
Dibangun menggunakan proses pabrikasi 28nm, Cortex - A17 memiliki arsitektur big.LITTLE yang juga ada di lini prosesor Samsung Exynos. Keunggulan lainnya, prosesor ini memiliki kinerja 60 persen lebih optimal dibandingkan Cortex - A9 yang menjadi jantungnya Tegra 3. Cortex - A17 juga diklaim menjadi prosesor yang lebih bertenaga dibandingkan Snapdragon 400 besutan Qualcomm.
 
Sampai dengan tahun 2015 nanti, Cortex - A17 akan menjadi produk andalan ARM yang menjadi referensi produsen prosesor yang lain.
 
Sumber: chip.co.id

MDM: Pengawal BYOD

 “Pernah dengar istilah MDM?”  tanya seorang teman. Yang dimaksud teman itu pasti bukan “Mid Day Meal”, karena pada saat itu kami sedang berdiskusi tentang teknologi informasi (TI). Bukan pula salah satu metode diet terbaru untuk melangsingkan badan. Lantas, apa itu MDM di lingkungan TI?
Jawabannya adalah Mobile Device Management. Seiring laju perkembangan mobilitas saat ini, apalagi ketika mobilitas diikuti tren Bring Your Own Device (BYOD), merangsek ke lingkungan korporasi atau enterprise, lahir satu kebutuhan baru di lingkungan TI. Korporasi membutuhkan perkakas atau tools untuk mengatur berbagai perangkat bergerak (mobile), seperti ponsel pintar atau komputer tablet, sehingga policy dan konfigurasi yang sudah ditetapkan departemen TI dapat diterapkan  pada perangkat-perangkat tersebut. Tools berbasis software inilah yang kemudian dikenal dengan nama MDM.

Secara strategis, pengaturan BYOD dapat dilakukan melalui dua cara pendekatan. Pertama, pendekatan Walled Garden. Biasanya dengan cara ini, kontrol aplikasi atau media ada di tangan operator telekomunikasi. Menurut saya, hal ini tidak sesuai jika diimplementasikan oleh perusahaan besar.
Kemudian, ada pula pendekatan Enterprise Workspace. Nah, ini adalah cara yang biasa dilaksanakan oleh perusahan, sehingga perusahaan memiliki kontrol penuh terhadap semua perangkat, bahkan termasuk aplikasi, content, dan medianya. Hal ini tanpa mengorbankan kepentingan si pemilik perangkat bergerak.

Pemain Lama vs. Baru
Sekarang, mengapa perusahaan membutuhkan MDM? Jawabnya karena tools ini dapat membantu perusahaan mengelola transisi dari komputasi berbasis desktop ke komputasi mobile yang lebih kompleks; mengelola lingkungan komunikasi dengan tetap mengedepankan faktor  keamanan data dan informasi; dan mengelola layanan jaringan, serta semua perangkat lunak plus perangkat keras dengan berbagai platform atau sistem operasi. Pengelolaan semacam ini menjadi makin penting karena tren Bring Your Own Device telah menjadi inisiatif yang mulai banyak dilirik perusahaan, bahkan pada saat ini telah menjadi fokus di berbagai perusahaan besar.

MDM sebenarnya bukan barang baru. Perangkat lunak ini dapat membantu pengelolaan peralatan korporasi maupun perangkat yang dimiliki pribadi (BYOD), dan implementasinya dapat dilakukan pada datacenter milik perusahaan, maupun melalui SaaS dan juga cloud.
Siapa saja penyedia MDM? Ada banyak nama besar yang menawarkan MDM, seperti IBM, SAP, Symantec, TrendMicro, McAfee, dan LANDesk. Namun, menurut rilis terakhir evaluasi Gartner lewat Magic Quadrant nya, nama-nama tersebut justru tidak termasuk dalam kategori “Leader & Visioner”. Justru ada nama-nama baru yang disebutkan Gartner, seperti MobileIron, AirWatch, dan FiberLink.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Saya rasa, itu karena adanya tuntutan akan tataran mobile yang lebih updated. Sementara banyak dari para pemain lama tersebut masih berkutat di “dua kaki”. Maksudnya, tools yang mereka tawarkan dapat dipakai oleh dua jenis platform, yakni mobile device dan notebook. Strategi seperti ini justru menimbulkan celah dan kelemahan pada solusi yang ditawarkan pemain lama, ketika tools tersebut dievaluasi hanya untuk perangkat bergerak. Sementara bagi pemain baru, mereka benar-benar memfokuskan kemampuan tools-nya untuk berjalan hanya pada perangkat bergerak, sepert smartphone dan komputer tablet saja.

Menyeluruh, MDM Taklukkan Multi OS
Aneka feature pada  MDM akan sangat dibutuhkan oleh korporasi setelah mereka masuk dalam platform baru, yaitu mobilitas. Sebenarnya ada bermacam-macam software yang dapat memecahkan masalah seputar platform mobile di lingkungan TI enterprise. Namun yang dibutuhkan adalah sebuah solusi menyeluruh. Nah, di sinilah MDM menunjukkan peran yang signifikan dalam mendukung kebutuhan mobilitas di perusahaan, akibat meningkatnya permintaan para pengguna dan beragamnya perangkat bergerak yang ingin mereka gunakan di lingkungan perusahaan.

Dulu, kebanyakan enterprise hanya menggunakan BlackBerry sebagai perangkat mobile standar perusahaan. Walhasil hal ini tidak menyusahkan. Pasalnya, orang TI cukup mengelola satu macam sistem operasi saja sehingga lebih memudahkan mereka. Maka, MDM belum terlalu dibutuhkan.
Namun sekarang, perangkat mobile kian menjamur. Selain iPad, kita juga mengenal berbagai perangkat berbasis Android, seperti yang dibuat Samsung, HTC, Motorola, LG, Sony, Google, dan sebagainya. Perangkat tersebut hadir dalam bentuk ponsel pintar maupun komputer tablet. Belum lagi sistem operasi Windows Mobile 8 yang mungkin dirilis Microsoft tahun depan. Untuk pengelolaan yang lebih efisien dan efektif, mau tak mau perusahaan harus menggunakan satu sistem, yaitu MDM.
Untuk itu, MDM yang akan dipilih sebaiknya memiliki berbagai kemampuan untuk mengelola dan mendukung aplikasi mobile, baik dari sisi content (isi dan datanya) maupun sistem operasinya. Komponen apa yang harus dimiliki sebuah solusi MDM? Antara lain, Configuration, Update, Patches/Fixes, Backup/Restore, Provisioning, otorisasi software monitoring, Transcode, Hosting, MEAPs (Managed Mobile Enterprise Application Platforms), Development, dan sinkronisasi background.

Selain itu, MDM pun harus memiliki kemampuan Network Service Management untuk mendapatkan informasi dari perangkat seluler dan jaringan. Hal ini bertujuan agar perusahaan dapat mengetahui lokasi penggunaan Procurement dan Provision, Reporting, Helpdesk/Support, Usage, Service, dan Contact. Adapula fungsi Hardware Management yang mencakup manajemen aset, seperti  provisioning dan support. Di dalam fungsi ini harus ada Procurement, Provisioning, Asset/inventory, Activation, Deactivation, Shipping, Imaging, Performance, Battery Life, Memory, dan sebagainya.
Yang tidak boleh ketinggalan dan tidak kalah pentingnya adalah MDM  harus memiliki feature Security Management demi meraih pengetatan keamanan perangkat, otentikasi, dan enkripsi. Feature ini umumnya mencakupkan berbagai kemampuan, seperti Remote Wipe, Remote lock, Secure Configuration, Policy Enforcement Password-enabled, Encryption, Authentication, Firewall, Antivirus, Mobile VPN, dan sebagainya.

Nah, sebelum departemen TI kebanjiran permintaan user tentang penggunaan perangkat mobile, sebelum para staf divisi Support Anda angkat tangan melayani user, dan sebelum data perusahaan bocor karena banyak pengguna menggunakan atau memindahkan data perusahaan ke layanan semacam DropBox, sebaiknya bersiaplah dengan MDM.

Sumber: infokomputer

Jumat, 31 Januari 2014

Contoh Implementasi Penerapan Jaringan Komputasi

VLAN

Penggunaan Virtual LAN (VLAN) dalam suatu jaringan LAN adalah bersifat opsional dan biasanya dipengaruhi oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu yang khusus seperti misalnya alasan keamanan dan pemisahan departemen. VLAN memberikan suatu metode  yang sangat flexible untuk mengelola segment-segment atau subnet-subnet jaringan yang bisa digunakan untuk mendifinisikan lokasi terpisah atau jaringan-jaringan departemental  menggunakan switch LAN yang mendukung standart 802.1Q. Jika menggunakan VLAN dalam jaringan-jaringan yang mempunyai swith yang saling terhubung, VLAN trunking antar switch diperlukan.
Untuk sebuah jaringan LAN kecil misal dirumahan atau dikantoran kecil, tidak ada alasan untuk membuat VLAN. Akan tetapi ada beberapa motivasi untuk membuat VLAN yang meliputi alasan berikut ini:
  • Untuk mengelompokkan user berdasarkan departemen, atau mengelompokkan suatu group pekerja kolaborasi, ketimbang berdasarkan lokasi.
  • Untuk menurangi overhead dengan membatasi ukuran broadcast domain
  • Untuk menekankan keamanan yang lebih baik dengan menjaga piranti-piranti sensitive terpisah kedalam suatu VLAN
  • Untuk memisahkan traffic khusus dari traffic utama – misalkan memisahkan IP telephoni kedalam VLAN khusus terpisah dari traffic user.
Tanpa VLAN, sebuah Switch akan memperlakukan semua interface pada switch tersebut berada pada broadcast domain yang sama – dengan kata lain, semua piranti yang terhubung ke switch berada dalam satu jaringan LAN. Dengan adanya VLAN, sebuah switch bisa mengelompokkan satu atau beberapa interface (baca port) berada pada suatu VLAN sementara interface lainnya berada pada VLAN lainnya. Jadi pada dasarnya, switch membentuk beberapa broadcast domain. Masing-masing broadcast domain yang dibuat oleh switch ini disebut virtual LAN.

Core switch

Contoh core switch
Core switch adalah switch dengan kapasitas tinggi dan umumnya ditempatkan pada backbone utama dari suatu jaringan. Core switch berfungsi sebagai pintu gerbang ke wide area network (WAN) atau internet. Core switch juga dikenal sebagai tandem switch atau backbone switch.

Server farm

Sebuah server farm disebut juga computer cluster, yaitu sekelompok server yang ada di suatu lokasi yang sama. Server-server ini dikoneksikan dalam jaringan secara bersama, sehingga memungkinkan bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan server yang sulit bahkan tak mungkin dilakukan oleh hanya 1 server. Dengan sebuah server farm, beban kerja didistribusikan diantara komponen-komponen server yang ada, memberikan cara untuk meringankan tugas-tugas komputerisasi berat dan  proses komputasi dapat dipercepat.

Dmz (demilitery zone)

Contoh dmz switch
DMZ adalah kependekan dari “demilitarized zone”, dan di dunia komputer, DMZ  merupakan suatu zona penyangga yang memisahkan Internet dan LAN privat. Microsoft menyebut DMZ sebagai “Screened Subnet”.

Contoh implementasi

Topologi jaringan radiologi di National Hospital
Sebagai contoh implementasi akan saya gunakan topologi konseptual jaringan di National Hospital untuk Departemen Radiologi. Atas dasar pertimbangan bahwa kebutuhan bandwidth yang besar untuk distribusi citra medis hasil pencitraan modality maka jalur koneksi antara modality dan picture archiving and communcation system (PACS) server harus dipisahkan dari yang lain (dengan menggunakan VLAN300). Sedangkan untuk kebutuhan teleradiologi dan pembacaan citra medis di PACS workstation di dalam departemen radiologi dan di poliklinik menggunakan jalur  VLAN100, bersama dengan hospital information system (HIS). Pada penerapan teleradiologi, untuk memperkecil tingkat resiko terjadinya bahaya ancaman dari luar (internet) bagi keamanan jaringan internal RS, DMZ switch digunakan untuk memisahkan jaringan internal RS dengan Internet.